Peningkatan Perkembangan Kognitif Anak Usia Dini

 

Abstrak

Perkembangan adalah perubahan yang progesif dan kontinyu (berkesimnambungan) dalam diri individu mulai lahir sampai mati. Pengertian lainnya yaitu : Perubahan – perubhan yang dialami individu atau organisme menuju tingkat kedewasaannya yang berlangsung secara sistematis, progesif, dan berkesinambungan baik menyangkut fisik maupun psikis.

1. Sistematis adalah perubahan dalam perkembangan itu bersifat saling ketergantungan atau saling mempengaruhi antara bagian – bagian organisme (fisik & psikis) dan merupakan satu kesatuan yang harmonis.

2. Progesif : perubahan yang terjadi bersifat maju, meningkat, dan mendalam baik secara kuantitatif (fisik) maupun kualitatif (psikis)

3. Berkesinambungan : perubahan pada bagian atau fungsi organisme berlangsung secara beraturan.

Kognitif adalah suatu proses berpikir, yaitu kemampuan individu untuk menghubungkan, menilai, dan mempertimbangkan suatu kejadian atau peristiwa. Proses kognitif berhubungan dengan tingkat kecerdasan (inteligensi) yang menandai seseorang dengan berbagai minat terutama sekali ditujukan kepada ide-ide dan belajar.

 

Kata kunci : perkembangan, kognitif, anak, usia dini

 

BAB 1 (PENDAHULUAN)

Latar Belakang

Perkembangan kognitif anak usia dini merupakan hal yang sangat penting. Karena pada masa ini merupakan masa emas bagi anak-anak usia dini. Orang tua dan guru harus mampu mengembangkan kemampuan kognitif anak agar kemampuan kognitif mereka berkembang secara baik dan optimal. Untuk itu orang tua dan guru harus mengetahui tahapan dan karakteristik perkembangan anak usia dini dan melatih mereka dengan permainan edukatif.

 

 

Rumusan Masalah

1.      Pengertian perkembangan kognitif?

2.      Apa saja tahapan dan karakteristik perkembangan kognitif anak usia dini?

3.      Apa permainan yang dapat mengedukasi anak usia dini?

Tujuan

1.      Dapat mengetahui tahapan dan perkembangan kognitif anak usia dini

2.      Dapat mengedukasi dan menstimulus perkembangan kognitif anak lewat permainan

 

BAB 2 (PEMBAHASAN)

Perkembangan kognitif adalah tahapan kemampuan seorang anak dalam memperoleh makna dan pengetahuan dari pengalaman serta informasi yang ia dapatkan. Perkembangan kognitif meliputi proses mengingat, pemecahan masalah, dan juga pengambilan keputusan.

Ada empat tahap perkembangan kecerdasan yang dikemukakan oleh Piaget. Berikut urutannya :

  1. Tahap Sensimotor (0-2tahun)

Tahap ini terjadi saat anak-anak menggunakan tindakan reflektif untuk menunjukkan perkembangan kognitif mereka. Anak akan mendapat pengetahuan dari pengalaman berdasarkan pada indera sensorik (melihat, mendengar, menyentuh) lalu kemudian memunculkan refleks (menggapai, menyentuh, mengisap). Artinya pengetahuan mereka pada usia ini bergantung pada sesuatu yang ditangkap oleh pancainderanya.

Misalnya anak akan mengerti apa yang bisa diisap dan tidak dengan memasukkan benda ke mulutnya. Jika anak merasakan kenyamanan, maka ia akan menganggap benda itu dapat diisiap.

Ciri-ciri lain periode sensimotor :

  • Ketergantungan terhadap penggunaan gerak refleks bawaan, seperti menggenggam dan menghisap
  • Egosentrisitas, yakni kondisi mental dan emosi di mana anak melihat sesuatu hanya berdasarkan sudut pandang mereka.
  • Ketergantungan pada hal-hal yang terlihat, belum memahami informasi yang tidak berwujud.
  1. Tahap Pra Operasional (2-7 tahun)

Pada usia ini anak mulai bisa memahami kejadian dan berpikir dengan menggunakan simbol seperti kata-kata untuk mewakili benda maupun peristiwa. Selain itu kemampuan anak dalam mengimajinasikan sesuatu mulai muncul. Namun anak belum dapat berpikir secara logis. Selain itu pemikiran anak juga masih tidak teratur atau intuitif. Seringkali anak berpikir hanya sebatas berdasarkan apa yang mereka lihat.

Misalnya :  jika air dari gelas dipindahkan ke mangkok, anak akan menganggap bahwa volume air di mangkok lebih banyak dibandingkan di gelas padahal sejatinya sama saja. Kenapa anak mengangganggap seperti itu? Karena ukuran mangkok lebih besar dari gelas sehingga mereka menganggap airnya juga lebih banyak. 

 Tahap Operasional Konkret (7-12 tahun)

Pada tahap ini anak mulai bisa berpikir secara logis dan terorganisir. Namun pemikiran itu masih didasarkan pada pengalaman nyata dan sesuatu yang terlihat. Meski begitu, inilah titik di mana kemampuan kognitif anak berkembang secara pesat.

Misalnya : anak sudah bisa memahami jumlah, luas, dan volume suatu benda. Jika ada air dari gelas dituangkan ke mangkok, anak sudah paham bahwa volume air tetap sama. Meski bentuk dan ukurannya berubah karena mengikuti wadah. Ini disebabkan anak sudah menunjukkan pemikiran yang lebih teratur dan nalar yang baik.

  1. Tahap Operasional Formal (12 tahun ke atas)

Tahap keempat perkembangan kognitif ini membuat anak mulai mampu menghadapi masalah verbal dan analisa yang kompleks dan tidak selalu bergantung pada objek konkret atau terlihat.  Anak-anak di tahapan ini juga sudah mengembangkan kemampuan berpikir secara ilmiah dan lebih logis.

Misalnya : kemampuan hitungan matematis berkembang pesat dan mampu membayangkan hasil dari tindakan yang dilakukannya.

 

 

Karakteristik Perkembangan Kognitif Anak Usia Dini

Perkembangan kognitif pada setiap tahapannya memiliki karakteristik tersendiri yang membedakan dengan tahapan yang lainnya. Adapun cara berpikir anak usia dini ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut:

a. Transductive reasoning, artinya anak berpikir yang bukan induktif atau deduktif tetapi tidak logis.

b. Ketidakjelasan hubungan sebab akibat, artinya anak mengenal hubungan sebab akibat secara tidak logis.

c. Animism, artinya anak menganggap bahwa semua benda itu hidup seperti dirinya.

d. Artificial, artinya anak mempercayai bahwa segala sesuatu di lingkungan itu mempunyai jiwa seperti manusia.

e. Perceptually bound, artinya anak mencoba melakukan sesuatu untuk menemukan jawaban dari persoalan yang dihadapinya.

f. Mental experiments, artinya anak mencoba melakukan sesuatu untuk menemukan jawaban dari persoalan yang dihadapinya.

g. Centration, artinya anak memusatkan perhatiannya kepada sesuatu ciri yang paling menarik dan mengabaikan ciri yang lainnya.

h. Egocentrism, artinya anak melihat dunia di lingkungannya menurut kehendak dirinya sendiri.

Melihat karakteristik cara berpikir anak pada tahapan ini dapat disimpulkan bahwa anak dalam tahap operasional telah menunjukkan aktivitas kognitif dalam menghadapi berbagai hal di luar dirinya. Aktivitas berpikirnya belum mempunyai sistem yang terorganisasi tetapi anak sudah dapat memahami realitas di lingkungannya dengan menggunakan benda-benda dan simbol-simbol. Cara berpikirnya masih bersifat tidak sistematis, tidak konsisten dan tidak logis.

Salah satu cara untuk melatih kemampuan kognitif anak usia dini adalah dengan permainan teka-teki dan puzzle. Dengan permainan ini, anak diharapkan mampu melakukan problem solving (memecahkan masalah). Menebak & Menyusun gambar serta kata akan melatih anak dalam membaca dan berpikir kritis.

BAB 3 (PENUTUP)

Kesimpulannya adalah jika ingin kemampuan kognitif anak dapat berkembang dengan baik dan optimal maka orang tua dan guru harus selalu mendampingi dan melatih kemampuan kognitif anak. Orang tua dan guru harus kreatif agar anak tidak mudah bosan saat belajar perkembangan kognitif.

Saran :

Selain media teka-teki dan puzzle, masih banyak permainan-permainan edukatif lainnya. Orang tua dan guru bisa menggunakan media permainan huruf dan bilangan yang terbuat dari balok kayu atau menulis huruf dan angka lalu diberi warna (diwarnai) supaya menarik.

 

Daftar Rujukan :

Susanto, A. (2011).Perkembangan Anak Usia Dini : Pengantar Dalam Berbagai Aspeknya.

https://anggunpaud.kemdikbud.go.id/berita/index/20210416072336/Mengenal-Tahap-Perkembangan-Kognitif-Anak

https://ejournal.upi.edu/index.php/RECEP/article/download/31070/14783

http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_SEKOLAH/194412051967101-KOKO_DARKUSNO_A/PENGERTIAN_DAN_CIRI_PERKEMBANGAN.pdf

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Persepsi, Sensasi, dan Atensi

Perkembangan Bahasa Pada Anak Usia Dini

Perencanaan dan Taksonomi